Showing posts with label sulawesi selatan. Show all posts
Showing posts with label sulawesi selatan. Show all posts

Sunday, December 4, 2011

Hubungan Kawali (Badik) dengan Tana Luwu

Oleh : Hengky Idrus Andi Mappangile 

Awal terbentuknya kerajaan luwu kaitannya dengan kebudayaan keris

Mungkin kita pernah dengar bahwa awal mula berdirinya kerajaan luwu, bersamaan dengan lahirnya kebudayaan metalurgi khususnya pemakaian besi untuk senjata-senjata pusaka dan sebagainya.. dimana salah satu besi yang dianggap bertuah dan paling dicari adalah besi Luwu (bessi Ussu).
ada beberapa versi mengenai hal tersebut, diantaranya adalah .konon pembuatan keris atau senjata pusaka pada jaman itu adalah jenis senjata berpamor, yang mana bahan tersebut salah satunya adalah besi Ussu dari Luwu yang banyak mengandung meteorit dan nikel, sehingga besi Luwu (ussu) menjadi bahan pamor utama pembuatan dalam pembuatan keris, dalam buku Ensiklopedi Keris disebutkan bahwa besi Luwu dipasaran dikenal dengan nama Bessi Pamorro, sampai dengan tahun 1920 masih dijumpai di pasar Salatiga dengan harga perkilo setara dengan 50 kg beras
Senjata berpamor pada umumnya untuk keperluan senjata pusaka karena dipercaya memiliki kelebihan2 yang berhubungan dengan aura kepemimpinan,… selain besi pamor.. di Luwu juga dikenal besi khusus untuk berperang namanya besi Ponglejing yang banyak dipergunakan sebagai senjata perang khususnya dari suku To Rongkong.
Versi lain mengatakan bahwa Sebagai mana diketahui, pulau Sulawesi adalah salah satu pulau terbesar digugusan kepulauan nusantara. Nama Sulawesi juga telah menjadi misteri tentang siapa yang pada awalnya memberikan nama pulau ini menjadi pulau Sulawesi. Akan tetapi besar dugaan bahwa orang yang bersejarah memberikan nama pulau ini sebagai Sulawesi yaitu Prof.Moh.Yamin sebagai ganti dari nama yang sebelumnya yaitu Celebes yang dikenal pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. Sebenarnya nama Celebes pada awalnya dikenalkan oleh seorang yang berkebangsaan Portugal yang bernama Antonio Calvao pada tahun 1563 .Celebes oleh Antonio Calvao dimaksudkan sebagai ” ternama” atau tanah yang makmur yang terletak digaris Khatulistiwa. Celebes bagi orang Belanda menyebutnya dari kata Cele Besi yaitu Cele ( Keris,badik atau kawali)`yang dibuat dari Bessi`( Bugis).
Sebuah anekdot dalam masyarakat yang konon menurut cerita yang dituturkan oleh seorang Belanda yang bertanya kepada seseorang yang secara kebetulan seorang bugis .Orang Belanda bertanya tentang nama tempat atau pulau, akan tetapi disalah artikan oleh orang Bugis yang menurut sangkaannya orang Belanda tersebut menanyakan nama senjatanya, lalu dijawabnya sele (keris) bessi (besi). Terlepas atas kebenaran cerita tersebut tetapi kenyataannya pulau Sulawesi sejak dahulu adalah penghasil bessi (besi), sehingga tidaklah mengherankan Ussu dan sekitar danau Matana mengandung besi dan nikkel.
Bessi Luwu atau senjata Luwu (keris atau kawali) sangat terkenal akan keampuhannya, bukan saja di Sulawesi tetapi juga diluar Sulawesi, sehingga seorang novelis terkemuka Kho Ping Ho (Asmaraman) menggambarkannya dalam cerita ” Badai di laut Selatan”didalamnya diceritakan kehebatan atau keampuhan Keris Brojol Luwu yang kini telah menjadi pusaka kerajaan Airlangga.
adapun yang mengatakan bahwa asal usul pulau sulawesi adalah Sulawesi, adalah nama sebuah pulau yang berada di tengah-tengah Indonesia. Bentuknya cukup unik, seperti huruf K dan dilalui oleh garis meridian 120 derajat Bujur Timur, dan juga terhampar dari belahan bumi utara sampai selatan. Menurut wikipedia, nama Sulawesi kemungkinan berasal dari kata ‘Sula’ yang berarti pulau dan ‘besi’ yang menurutnya banyak ditemukan di sekitar Danau Matana. Pada dokumen dan peta lama, pulau ini dituliskan dengan nama ‘Celebes’. Waktu saya kecil, saya pernah mendengar hikayat tidak resmi tentang asal usul nama ‘Celebes’ ini, yang mungkin saja benar. Hikayat ini dalam Bahasa Bugis…
Wettu rioloE, wettu pammulanna engka to macellaE gemme’na, no pole lopinna ri birittasi’E, lokka i makkutana ko to kampongE. To kampong E wettunna ro, na mapparakai lopinna, masolang ngi engsele’na. Na wettunna makkutana i to macella’E gemme’na, to kampong E de’ na pahang ngi, aga hatu na pau. Kira-kira pakkutanana yaro to macella’E gemme’na, mappakkoi: “Desculpar-me, qual é o nome deste local?” Yero to kampongE, naaseng ngi kapang, “agatu ta katenning?”. Mabbeli adani to kampongE, “Sele’bessi”. Pole mappakoni ro, na saba’ asenna ‘Celebes’.
Terjemahan bebas: Pada waktu lampau, pada saat pertama kali rombongan orang yang berambut merah turun dari perahu dan menghampiri penduduk setempat yang sedang bekerja membuat perahu. Pimpinan rombongan tersebut bertanya mungkin dalam bahasa Portugis yang tidak dimengerti, mungkin bertanya ‘Apa nama tempat ini?’ Penduduk yang ditanyai, karena tidak paham, hanya mengira-ngira mungkin dia ditanya benda apa yang sedang dia pegang? Dengan spontan penduduk tersebut menjawab ‘Sele’bessi’ yang artinya engsel besi. Sejak saat itu, pimpinan orang yang berambut merah mencatat lokasi yang mereka datangi bernama daerah ‘Celebes’.
Salah satu ekspedisi ilmiah dunia terkait dengan Sulawesi dilakukan oleh Alfred Russel Wallace yang mengemukakan suatu garis pembatas tentang flora dan fauna yang ada di Indonesia. Juga ekspedisi Snellius (Universitas Leiden) yang mempelajari tentang kondisi bawah permukaan sekitar Sulawesi sampai ke Maluku. Kedua ekspedisi ilmiah pada zaman tersebut menggunakan nama ‘Celebes’.
Yang menarik adalah masyarakat lokal pada waktu itu belum menyadari untuk memberikan nama ke pulau tempat mereka berdiam. Sehingga untuk hal ini, Celebes merupakan eksonim untuk pulau yang nyaris berbentuk huruf K ini. Dari Celebes ini kemudian berevolusi menjadi ‘Sulawesi’ yang menjadi endonim sampai saat ini.
tapi menurut Bapak Iwan Sumatri seorang arkeolog dari Unhas. Terkait penelitian peninggalan sejarah dan purbakala. Salah satunya adalah penelitian kerjasama Pusat Arkeologi Makassar dan The Australia National University dengan mengambil tema proyek “The origins of Complex Society in South Sulawesi (OXIS project)” yang dilakukan di kabupaten Luwu dan hasilnya ditulis dalam bukunya “Kedatuan Luwu”.
Dalam buku itu, disebutkan Kerajaan Luwu pernah memainkan peran penting pada periode keemasan Majapahit. Karena itu, nama Luwu tercatat dalam kitab Nagarakartagama yang selesai ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365.
Diduga, Majapahit mengadakan kontak atau hubungan niaga dengan Kedatuan Luwu dikarenakan daerah ini memiliki sumber besi yang berkualitas baik, yang pada saat itu diperlukan oleh karajaan Majapahit untuk produk peralatan senjata/keris Jawa yang terkenal karena mengandung pamor Luwu.
Tempat yang diduga sebagai sumber bahan mineral adalah daerah Matano dan beberapa daerah di Limbong. Dalam laporan OXIS project dinyatakan:“The world’s largest nickel-mining complex is located in the southern bank of Lake matano, which has led to speculation that bickellifeous iron ore from the Matano area was smelted to produce the famous pamor Luwu used in Majapahit krisses”
Dari hasil ekskavasi atau penggalian yang dilakukan di sekitar Danau Matano 1998-1999, diketahui lokasi tersebut pernah menjadi sentra industri peleburan bijih besi dengan ditemukannya terak-terak besi yang melimpah. Bijih besinya sendiri antara lain diambil dari bukit-bukit di atasnya. Hal ini terbukti dengan banyaknya ditemukan lubang-lubang bekas penambangan besi kuno di perbukitan utara Danau Matano (Bukit Latajang).
Lebih lanjut Pak Iwan-sapaan akrabnya- menyebutkan data-data pendukung bahwa Desa Matano pernah menjadi sentra industri dan pemukiman yang kompleks. Ditandai antara lain dengan adanya sisa benteng tanah dua lapis di sisi barat Desa Matano, mata air, batu dakon, situs pekuburan tua.

Rupanya Pak Iwan tidak puas hanya dengan bercerita. Beliaupun mengajak kami mengunjungi kompleks pekuburan Lakamandiu yang terletak di Bukit Pa’angkaburu, sekitar 10-an km dari Desa Matano.
Menurut Pak Iwan, yang juga ketua jurusan Arkelogi Unhas ini, Matano menjadi penting karena tradisi lisan banyak menyebutkan bahwa daerah perbukitan Danau Matano dipandang sebagai zona sumber bijih besi Luwu yang berkualitas dan kemungkinan besar pernah diekspor ke Jawa, dan diokupasi sejak sekurang-kurangnya abad XIV.
Bijih laterit yang kandungan besinya dikatakan sampai 50% serta nikel banyak ditemukan di atas muka tanah sekitar Danau Matano. Dari hasil ekskavasi yang telah dilakukan, temuan dominan di situs Matano berupa terak besi, arang, serpihan batuan lebih dari 700 buah dalam satu kotak ekskavasi yang berukuran 1×1 m. Serpihan batu ini diduga dipakai sebagai batu pematik api (batu api).
Temuan lainnya yaitu wadah tembikar polos maupun berhias, pipa tanah liat dan sebagainya. Bahkan, untuk pipa tanah liat ini ada dugaan digunakan untuk mengalirkan logam yang telah dicairkan karena ada indikasi lapisan cairan besi pada lekukan dalam.
Pada survey awal tahu 1995 oleh tim kecil yang dipimpin oleh David Bulbeck, ditemukan sisa-sisa tanah yang teroksidasi besi sepanjang tepi danau Desa Matano yang mengindikasikan sejarah yang panjang. Data lainnya berupa serpih batu (chert), fragmen gerabah hias dan polos. Selain itu diperoleh informasi adanya areal yang disebut Rahampu’u, artinya rumah pertama, yang merupakan cikal bakal pemukiman di Desa Matano.

Situs Nuha dan Pontanoa Bangka
Selain di Desa Matano, penggalian dilakukan pada tempat lain yang dianggap sebagai unit-unit pemukiman kuno di sepanjang penggiran Danau Matano, yaitu Nuha, Sukoyo, dan Pontanoa Bangka.
Disimpulkan Matano, Nuha dan Sukoyo untuk sementara diidentifikasi sebagai tempat hunian utama. Dalam konteks populasi pinggir danau, terutama bagi komunitas Nuha dan Sukoyo, dala situasi tersebut, paling representatif menggunakan Pontanoa Bangka sebagai tempat penguburan.
Pertanggalan mengenai tungku sisa-sisa pengolahan bijih besi yang ditemukan di Nuha menunjukkan bahwa sejak 1000-1500 tahun lalu masyarakat Nuha telah mengenal pengolahan bijih besi. Meskipun masih bersifat hipotesis tetapi kemungkinan besar pada masa itu masyarakat Nuha juga telah mengenal penempaan besi menjadi alat-alat kebutuhan sehari-hari, bukan mustahil juga dibuat untuk mensuplai permintaan pasar.
Diduga sekitar 1500 tahun yang lalu, kemungkinan besar masyarakat Nuha telah memiliki kontak dengan dunia luar. Jalan darat dapat mengitari bagian punggung pengunungan sekitar Danau Matano yang kemudian dapat menembus daerah seperti cerekang dan Ussu. Pada bagian utara Nuha, jalan darat dapat menghubungkan beberapa wilayah yang berbeda dalam kawasan pesisisr timur Sulawesi Tenggara dan Tengah.
Bukti kuat interaksi Nuha dengan wilayah luar, dengan ditemukannya sisa kain yang terbuat dari kapas serta manik-manik (dua diantaranya adalah dari bahan kornelian), diduga berasal dari pertengahan millennium pertama, yakni dari tahun 410-660 Masehi atau berumur ±1520 tahun yang lalu.

Jika benar pendapat bahwa Sriwijaya merupakan salah satu tempat tertua sentra industri manik kornelian antara abad VIII-XII, bukankah bahwa manik kornelian PB menunjukkan kronologi lebih tua, dan dengan begitu memberi gasasan pada kita untuk mempertanyakan; apakah manik tersebut merupakan benda impor yang sangat mungkin berasal dari India, langsung atau tidak langsung.
Demikian juga sisa kain, boleh jadi mewakili produk kain tertua yang penah itemukan di Indonesia dan merupakan jenis tekstil yang hanya diproduksi di India.
Meskipun letak geografisnya terpencil, namun terbukti, potensi sumber daya alam dan populasi yang telah menguasai keahlian dalam teknologi logam, memungkinkan daerah perbukitan Matano itu menjadi terbuka, setidaknya pernah menjalin hubungan eksternal dengan kelompok-kelompok komunitas lain dalam jaringan niaga maritim yang luas.
Hubungan itu menghidupkan arus komunikasi timbal balik dan saling ketergantungan. Jika demikian maka Nuha merupakan zona sumber alam potensial sehingga memungkinkan terjadinya barter ataupun bentuk-bentuk pertukaran kuno lainnya dari dan ke tempat ini.
Sayangnya, data arkeologi Nuha tidak tersedia cukup untuk memberi penjelasan kapan dan bagaimana pola perdagangan ataupun barter yang pernah terjadi. Tetapi kemungkinan sekali hal ini bermula dari hasil hutan seperti damar dan gaharu yang banyak ditemukan di sepanjang perbukitan dan lebah-lembah sekitar Danau Matano. Jenis interaksi ini kemudian memunculkan inovasi baru dalam bentuk pengolahan bijih besi dan besar kemungkinan menjadi komoditas utama mengikuti perkembangan pasar yang membutuhkan bahan baku pembuatan alat logam.

Pekuburan Pra Islam di Pontanoa Bangka
Pontanoa Bangka dalam bahasa lokasl berarti perahu yang ditenggelamkan ke dasar danau. Di situs ini terdapat lokasi penguburan pra islam.

Komposisi temuan ekskavasi dimulai dengan sebuah wadah gerabah yang di sekitarnya banyak ditemukan manik-manik. Di bagian bawah wadah ditemukan hamparan arang padat dan terkonsentrasi.
Pada kedalaman ±100 centimeter, ditemukan fotur yang berisi beberapa fragmen gelang dan cincin perunggu serta beberapa cangkang kemiri. Di kedalaman kurang lebih dua meter, ditemukan fitur lain yang berisi gelang, cincin, manik-manik, parang, kain dan tikar dari daun pandan/lontar(?) yang telah lapuk. Asosiasi ini kemungkinan besar merupakan satu set aksesoris perhiasan yang dibungkus dengan kain kemudian diletakkan di tas tikar bersamaan dengan parang.
Hasil analisis sejumlah sample temuan dari Pontanoa Bangka di laboratorium Australian National Universitas, Canberra, menunjukkan beberapa umur karbon. Sample arang, misalnya, yang dicuplik dari konteks kubur dengan wadah gerabah, menunjukkan pertanggalan 1000 BP. Sedangkan analisa sisa katun (kapas) serta arang dimana terdapat kubur tanpa wadah gerabah, menunjukkan pertanggalan 1500 BP atau sekitar 410-660 M.
Sementara pengajuan atas sisa pekerjaan besi dari Nuha memberi bukti tentang kegiatan olah logam tertua; pertanggalan arang yang tersisa pada tungku pembakaran menunjukkan umur 1000 BP. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa lapisan pertama (kubur dengan wadah) ada situs kubur Pontanoa bangka sejaman dengan pemukiman di Nuha.
dari hal diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa di masa silam telah ada populasi lokal yang cukup memiliki keahlian dalam teknologi logam yang selama beberapa abad pernah menjadi andalan ekonomi Luwu. Dan rasanya tak mengherankan jika dikekinian ada perusahaan raksasa, seperti PT Inco yang bercokol untuk menambang dan memanfaatkan potensi mineral tersebut

Sunday, October 31, 2010

Mengenang Pahlawan Nasional Sulsel, Letjen Andi Abdullah Bau Massepe

Parepare, Andi Abduhlah Bau Massepe, adalah seorang Asisten Residen (Ken Kanrikan) yang dibentuk oleh Jepang ketika itu. Asisten  Residen ini membawahi lima wilayah Onder Afdeling, Parepare, Sulawesi Selatan, sebagai Kantor Pusat, Pinrang, Barru, Sidrap, dan Enrekang.  

Ketika mendengar Jepang telah menyerah kepada sekutu. Andi Abdullah Bau Masepe yakin Indonesia pasti merdeka. Tiga bulan setelah Jepang menyerah, beberapa tentara Jepang (Heiho) melarikan diri ke Suppa meminta perlindungan Andi Andullah Bau Masepe. Tentara Heiho ini diterima baik oleh Andi Abdullah Bau Masepe dan menganggap mereka adalah Duta Suppa untuk dipergunakan tenaganya dalam kesatuan bersenjata.

Dr. Ratulangi mendatangi Andi Abdullah Bau Masepe untuk mengadakan dan membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI). Perintah Dr. Ratulangi itu, disampaikan ke seluruh anggota Onder Afdeling, agar mereka membentuk PNI.  Saat itu semua rakyat yang berumur 15 tahun keatas masuk PNI yang juga merupakan orang-orang rebuliken.

Pada tanggal 21 Agustus 1945 diadakan rapat raksasa dan upacara penaikan Bendera Merah Putih di lapangan La Sinrang dengan maksud memasyarakatkan Sang Merah Putih.

Pada saat itu, Andi Abdullah Bau Massepe berpidato menyerukan agar semua rakyat mempertahankan kemerdekaan samai tetes darah penghabisan. Pada rapat-rapat selanjutnya, Andi Bau Massepe selalu menekankan perlunya persatuan dan kesatuan untuk terus berjuang mempertahankan kemerdekaan. Selain itu, Andi Bau Massepe juga menyusun satu kesatuan bersenjata untuk mem pertahankan Indonesia.

"Kalau perlu kita harus berkorban harta dan jiwa. Kalau kita tak dapat menikmati kemerdekaan, nanti anak cucuku kita yang menikmatinya, di Indonesia pasti mereka." Begitu ucapan Andi Abdullah Bau Massepe ketika mengadakan pertemuan rahasia yang berlangsung di rumahnya di Majennang, yang dihadiri para pegawai swapraja Suppa dan pemuka-pemuka masyarakat Suppa. Pada rapat rahasia itu disepakati menyetujui dan mengangkat sumpah mengatakan "Polopa polopanni narekko naposiri ipomateni idi' atae".

Pada saat itu juga oleh Andi Abdullah Bau Massepe memerintahkan Andi Arsyad, AndiSelle, Labanggo Siradja untuk menyusun laskar BPRI guna persiapan tempur melawan NICA (Belanda) dan dibantu oleh bekas Heihodari Jepang yang melarikan diri dan berjuang untuk kemerdekaan RI. Kemudian dibentuk juga Persatuan Merah Putih. Para komandan laskar tersebutm, masing-masing Andi Cammi di Sidrap dengan gelar Ganggawa, Andi Abu Bakar Masenrengpulu di Enrekang gelarnya BPRI Andi Parenrengi di Majene dengan gelar Kris Muda, Di Barru diberi gelar BPRI.

Tanggal 30 Agustus 1945, Andi Abdullah Bau Massepe bersama Andi Makkasau mengadakan demonstrasi barisan keliling kota Parepare dengan membawa bendera Merah Putih, sekitar 400 orang dari Suppa dengan menggunakan Kopiah berlambang merah putih, bergabung dengan PNI Parepare yang dipimin Usman Isa yang juga Ketua PNI Parepare. Gerakan itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa mereka siap mempertahankan kemerdekaan RI. Ketika Tentara NICA berkuasa, Andi Abdullah Bau Massepe bersama pasukannya terus melakukan perlawanan terhadap tentara NICA.

Pasukan dibawah Komando Andi Abdullah Bau Masepe itu melakukan gerakan gerilla dan beberapa kali terjadi kontak senjata dengan tentara NICA. Untuk kebutuhan persenjataan, Andi Bau Massepe melakukan kontak dengan Juli, seorang Komandan Polisi NICA di Balik Papan (Kaltim). Juli yang juga seorang pejuang sejati itu, mensuplai ratusan senjata dan amunisidan diselundupkan masuk melalui pelabuhan Suppa.

Rupanya gerakan perjuangan Andi Abdullah Bau Massepe membuat pusing tentara NICA. Komandan Tentara NICA kemudian menemui Andi Abdullah Bau Massepe ke Kantor Swapraja di Suppa. NICA menyodorkan selembar kertas agar ditandatangani. Isi surat itu, agar Andi Abdullah Bau Massepe mau menyetujui keberadaan Belanda di wilayahnya. Tawaran itu ditolak mentah-mentah.

"Permintaan tuan tidak dapat dipenuhi. Indonesia pasti merdeka, tidak ditawar-tawar kalau perlu saya korban bersama-sama dengan rakyat di Suppa, kalau perlu korban darah dan jiwa pun saya rela dan saya tidak bisa berbicara dua kali, hanya sekali dilahirkan oleh ibu saya, tidak cukup dua kali dan berpesan lebih baik mati berkalang tanah daripada dijajah kembali oleh Belanda." tegas Andi Abdullah Bau Massepe ketika itu. Perkataan itu membuat Komandan Tentara NICA marah.

Beberapa hari kemudian, tentara Belanda menangkap Andi Abdullah Bau Masepe bersama Andi Baso Daeng Erang Sulawatang Suppa, Andi Mojong Pabbicara Suppa dan Syamsuddin Juru tulis Suppa. Kelimanya ditahan Belanda di barak tentara NICA di kampung Kariango. Bulan Desember, Andi Abdullah Bau Massepe dan Andi Baso Daeng Erang dibunuh di Palia, yang lainnya ditembak mati di Suppa. Dari perjuangan Andi Abdullah Bau Massepe, lahirlah Resimen I Paccekke Brigade 16.  

Penganugerahan kepada pejuang sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah adalah merupakan suatu bentuk penghargaan pemerintah kepada jasa para pahlawan yang telah berkorban jiwa dan raga demi dan semata-mata untuk membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan dimasa yang silam adalah manifestasi bahwa bangsa kita dewasa ini meski di ronrong berbagai masalah dan polemik tetap dan tak akan lekang menghargai pengorbanan para pahlawan bangsa ini, sebab Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghormati dan menghargai jasa pahlawannya.  

Begitu pun sejarah heroik yang telah dilakoni oleh sosok Andi Abdullah Bau Massepe pejuang yang dengan begitu gigih berjuang bersama masyarakat Sulawesi Selatan dalam mengusir penjajahan dari bumi Sulawesi, yang dalam rangkaian perjalanan yang begitu panjang dan berliku dan tanpa mengenal lelah serta pengorbanan harta dan nyawa telah membawa bangsa ini ke zaman yang kita nikmati saat ini, kemerdekaan dan kebebasan.

Olehnya pemerintah pusat berkenan menganugerahkan Letnan Jenderal TNI Andi Abdullah Bau Massepe sebagai pahlawan nasional pada momen Hari Pahlawan tanggal 10 November 2005 bertempat di Istana Negara Jakarta oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang dihadiri segenap pejabat tinggi negara serta ahli waris, keluarga dan kerabat Andi Abdullah Bau Massepe serta masyarakat Sulawesi Selatan sendiri.

Rasa bangga dan terhormat tentu saja dirasakan oleh bukan saja keluarga dan kerabat Bau Massepe akan tetapi kebanggaan dan penghormatan tersebut juga dirasakan oleh seluruh masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya.


Oleh : Sulhayat Takdir, Sh
.