Di kalangan penduduk, masih banyak kepercayaan yang diwujudkan dalam wujud Pemali atau laranagan. Pemmali tersebut berlaku baik dalam hal makanan maupun dalam pekerjaan tertentu. Jampi-jampi dan perbuatan magis serta jimat masih banyak ditemui dimana-mana. disebut juga Kassipalli dalam bahasa makassar berarti larangan atau pantangan untuk berbuat atau mengatakan sesuatu. biasanya tiap pemmali itu mempunyai sifat sakral dan berfungsi melindungi. khusus dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak Pemmali yang ditaati oleh penduduk.
Showing posts with label bugis makassar. Show all posts
Showing posts with label bugis makassar. Show all posts
Monday, August 15, 2011
Wednesday, February 23, 2011
Jejak Bugis Makassar di Tanah Jawa
,
Jejak Bugis Makassar di Tanah Jawa Sejarah etnis Bugis Makassar dan Jawa memiliki pertautan, darah Bugis Makassar yang mengalir dalam tubuh Dr.Wahidin Sudirohusodo, pelopor Budi Utomo, adalah fakta bahwa betapa etnis Bugis Makassar yang tersohor sebagai pelaut ulung sekaligus perantau ulung telah melahirkan tokoh yang berperan dalam sejarah berdirinya bangsa Indonesia. Pendapat yang selama ini berkembang bahwa bangsa Indonesia lahir berkat perjuangan etnis tertentu adalah keliru, melainkan bangsa ini lahir dari pergolakan multietnis yang tersebar di seluruh nusantara.
Penelusuran genetis DR.Wahidin Sudirohusodo berawal pada bangsawan Bugis Makassar, Karaeng Daeng Naba yang mengembara ke Jawa setelah Kerajaan Gowa takluk pada Kompeni Belanda di tahun 1669. Di Jawa, Daeng Naba terlibat dalam intrik perebutan kekuasaan antara Trunajaya melawan Mataram, yang mengantarkan Daeng Naba pada posisi negosiator antara pasukan Trunajaya, Madura, dan Karaeng Galesong. Daeng Naba mengupayakan agar di medan pertempuran nanti pasukan Trunajaya, Madura, dan Karaeng Galesong tidak berhadapan dengan pasukan Mataram melainkan berhadapan dengan pasukan kompeni. Adegan negosiasi ini, disaksikan dalam film epik Diaspora Bugis Makassar dan Kebangkitan Nasional (DBMKN), produksi Masyarakat Sejarawan Indonesia dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI, film berdurasi 23 menit ini berusaha merekam jejak Bugis Makassar di tanah Jawa melalui karakter Karaeng Dg.Naba dan Karaeng Galesong. Pemutaran DBMKN berlangsung di Ruang Rapat A, Gedung Rektorat Unhas pada Rabu (27/05), disaksikan sejumlah wartawan media cetak dan elektronik di Makassar. Kepala Badan Sensor Film Indonesia (BSFI), DR. Mukhlis Paeni pada kesempatan diskusi setelah pemutaran film menyampaikan, Saat ini kita berada dalam era industri budaya yang menempatkan budaya sebagai deposit yang bisa dikembangkan dan meningkatkan kesejahteraan dengan mengangkat tema lokal ke layar lebar. Mukhlis menambahkan mengangkat tema lokal ke layar lebar akan lebih menarik dinikmati oleh generasi muda, mengingat adanya kecenderungan generasi muda yang enggan mentradisikan budaya membaca. Bugis Makassar sendiri memiliki beragam tema lokal yang menarik diangkat ke layar lebar, baik kisah kepahlawanan, asmara, hingga tema horor yang banyak meramaikan industri perfilman Indonesia. (Nia K.)
Sumber : Website Universitas Hasanuddin
Sunday, October 31, 2010
Mengenang Pahlawan Nasional Sulsel, Letjen Andi Abdullah Bau Massepe
Parepare, Andi Abduhlah Bau Massepe, adalah seorang Asisten Residen (Ken Kanrikan) yang dibentuk oleh Jepang ketika itu. Asisten Residen ini membawahi lima wilayah Onder Afdeling, Parepare, Sulawesi Selatan, sebagai Kantor Pusat, Pinrang, Barru, Sidrap, dan Enrekang.
Ketika mendengar Jepang telah menyerah kepada sekutu. Andi Abdullah Bau Masepe yakin Indonesia pasti merdeka. Tiga bulan setelah Jepang menyerah, beberapa tentara Jepang (Heiho) melarikan diri ke Suppa meminta perlindungan Andi Andullah Bau Masepe. Tentara Heiho ini diterima baik oleh Andi Abdullah Bau Masepe dan menganggap mereka adalah Duta Suppa untuk dipergunakan tenaganya dalam kesatuan bersenjata.
Dr. Ratulangi mendatangi Andi Abdullah Bau Masepe untuk mengadakan dan membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI). Perintah Dr. Ratulangi itu, disampaikan ke seluruh anggota Onder Afdeling, agar mereka membentuk PNI. Saat itu semua rakyat yang berumur 15 tahun keatas masuk PNI yang juga merupakan orang-orang rebuliken.
Pada tanggal 21 Agustus 1945 diadakan rapat raksasa dan upacara penaikan Bendera Merah Putih di lapangan La Sinrang dengan maksud memasyarakatkan Sang Merah Putih.
Pada saat itu, Andi Abdullah Bau Massepe berpidato menyerukan agar semua rakyat mempertahankan kemerdekaan samai tetes darah penghabisan. Pada rapat-rapat selanjutnya, Andi Bau Massepe selalu menekankan perlunya persatuan dan kesatuan untuk terus berjuang mempertahankan kemerdekaan. Selain itu, Andi Bau Massepe juga menyusun satu kesatuan bersenjata untuk mem pertahankan Indonesia.
"Kalau perlu kita harus berkorban harta dan jiwa. Kalau kita tak dapat menikmati kemerdekaan, nanti anak cucuku kita yang menikmatinya, di Indonesia pasti mereka." Begitu ucapan Andi Abdullah Bau Massepe ketika mengadakan pertemuan rahasia yang berlangsung di rumahnya di Majennang, yang dihadiri para pegawai swapraja Suppa dan pemuka-pemuka masyarakat Suppa. Pada rapat rahasia itu disepakati menyetujui dan mengangkat sumpah mengatakan "Polopa polopanni narekko naposiri ipomateni idi' atae".
Pada saat itu juga oleh Andi Abdullah Bau Massepe memerintahkan Andi Arsyad, AndiSelle, Labanggo Siradja untuk menyusun laskar BPRI guna persiapan tempur melawan NICA (Belanda) dan dibantu oleh bekas Heihodari Jepang yang melarikan diri dan berjuang untuk kemerdekaan RI. Kemudian dibentuk juga Persatuan Merah Putih. Para komandan laskar tersebutm, masing-masing Andi Cammi di Sidrap dengan gelar Ganggawa, Andi Abu Bakar Masenrengpulu di Enrekang gelarnya BPRI Andi Parenrengi di Majene dengan gelar Kris Muda, Di Barru diberi gelar BPRI.
Tanggal 30 Agustus 1945, Andi Abdullah Bau Massepe bersama Andi Makkasau mengadakan demonstrasi barisan keliling kota Parepare dengan membawa bendera Merah Putih, sekitar 400 orang dari Suppa dengan menggunakan Kopiah berlambang merah putih, bergabung dengan PNI Parepare yang dipimin Usman Isa yang juga Ketua PNI Parepare. Gerakan itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa mereka siap mempertahankan kemerdekaan RI. Ketika Tentara NICA berkuasa, Andi Abdullah Bau Massepe bersama pasukannya terus melakukan perlawanan terhadap tentara NICA.
Pasukan dibawah Komando Andi Abdullah Bau Masepe itu melakukan gerakan gerilla dan beberapa kali terjadi kontak senjata dengan tentara NICA. Untuk kebutuhan persenjataan, Andi Bau Massepe melakukan kontak dengan Juli, seorang Komandan Polisi NICA di Balik Papan (Kaltim). Juli yang juga seorang pejuang sejati itu, mensuplai ratusan senjata dan amunisidan diselundupkan masuk melalui pelabuhan Suppa.
Rupanya gerakan perjuangan Andi Abdullah Bau Massepe membuat pusing tentara NICA. Komandan Tentara NICA kemudian menemui Andi Abdullah Bau Massepe ke Kantor Swapraja di Suppa. NICA menyodorkan selembar kertas agar ditandatangani. Isi surat itu, agar Andi Abdullah Bau Massepe mau menyetujui keberadaan Belanda di wilayahnya. Tawaran itu ditolak mentah-mentah.
"Permintaan tuan tidak dapat dipenuhi. Indonesia pasti merdeka, tidak ditawar-tawar kalau perlu saya korban bersama-sama dengan rakyat di Suppa, kalau perlu korban darah dan jiwa pun saya rela dan saya tidak bisa berbicara dua kali, hanya sekali dilahirkan oleh ibu saya, tidak cukup dua kali dan berpesan lebih baik mati berkalang tanah daripada dijajah kembali oleh Belanda." tegas Andi Abdullah Bau Massepe ketika itu. Perkataan itu membuat Komandan Tentara NICA marah.
Beberapa hari kemudian, tentara Belanda menangkap Andi Abdullah Bau Masepe bersama Andi Baso Daeng Erang Sulawatang Suppa, Andi Mojong Pabbicara Suppa dan Syamsuddin Juru tulis Suppa. Kelimanya ditahan Belanda di barak tentara NICA di kampung Kariango. Bulan Desember, Andi Abdullah Bau Massepe dan Andi Baso Daeng Erang dibunuh di Palia, yang lainnya ditembak mati di Suppa. Dari perjuangan Andi Abdullah Bau Massepe, lahirlah Resimen I Paccekke Brigade 16.
Penganugerahan kepada pejuang sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah adalah merupakan suatu bentuk penghargaan pemerintah kepada jasa para pahlawan yang telah berkorban jiwa dan raga demi dan semata-mata untuk membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan dimasa yang silam adalah manifestasi bahwa bangsa kita dewasa ini meski di ronrong berbagai masalah dan polemik tetap dan tak akan lekang menghargai pengorbanan para pahlawan bangsa ini, sebab Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghormati dan menghargai jasa pahlawannya.
Begitu pun sejarah heroik yang telah dilakoni oleh sosok Andi Abdullah Bau Massepe pejuang yang dengan begitu gigih berjuang bersama masyarakat Sulawesi Selatan dalam mengusir penjajahan dari bumi Sulawesi, yang dalam rangkaian perjalanan yang begitu panjang dan berliku dan tanpa mengenal lelah serta pengorbanan harta dan nyawa telah membawa bangsa ini ke zaman yang kita nikmati saat ini, kemerdekaan dan kebebasan.
Olehnya pemerintah pusat berkenan menganugerahkan Letnan Jenderal TNI Andi Abdullah Bau Massepe sebagai pahlawan nasional pada momen Hari Pahlawan tanggal 10 November 2005 bertempat di Istana Negara Jakarta oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang dihadiri segenap pejabat tinggi negara serta ahli waris, keluarga dan kerabat Andi Abdullah Bau Massepe serta masyarakat Sulawesi Selatan sendiri.
Rasa bangga dan terhormat tentu saja dirasakan oleh bukan saja keluarga dan kerabat Bau Massepe akan tetapi kebanggaan dan penghormatan tersebut juga dirasakan oleh seluruh masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya.
Oleh : Sulhayat Takdir, Sh
Ketika mendengar Jepang telah menyerah kepada sekutu. Andi Abdullah Bau Masepe yakin Indonesia pasti merdeka. Tiga bulan setelah Jepang menyerah, beberapa tentara Jepang (Heiho) melarikan diri ke Suppa meminta perlindungan Andi Andullah Bau Masepe. Tentara Heiho ini diterima baik oleh Andi Abdullah Bau Masepe dan menganggap mereka adalah Duta Suppa untuk dipergunakan tenaganya dalam kesatuan bersenjata.
Dr. Ratulangi mendatangi Andi Abdullah Bau Masepe untuk mengadakan dan membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI). Perintah Dr. Ratulangi itu, disampaikan ke seluruh anggota Onder Afdeling, agar mereka membentuk PNI. Saat itu semua rakyat yang berumur 15 tahun keatas masuk PNI yang juga merupakan orang-orang rebuliken.
Pada tanggal 21 Agustus 1945 diadakan rapat raksasa dan upacara penaikan Bendera Merah Putih di lapangan La Sinrang dengan maksud memasyarakatkan Sang Merah Putih.
Pada saat itu, Andi Abdullah Bau Massepe berpidato menyerukan agar semua rakyat mempertahankan kemerdekaan samai tetes darah penghabisan. Pada rapat-rapat selanjutnya, Andi Bau Massepe selalu menekankan perlunya persatuan dan kesatuan untuk terus berjuang mempertahankan kemerdekaan. Selain itu, Andi Bau Massepe juga menyusun satu kesatuan bersenjata untuk mem pertahankan Indonesia.
"Kalau perlu kita harus berkorban harta dan jiwa. Kalau kita tak dapat menikmati kemerdekaan, nanti anak cucuku kita yang menikmatinya, di Indonesia pasti mereka." Begitu ucapan Andi Abdullah Bau Massepe ketika mengadakan pertemuan rahasia yang berlangsung di rumahnya di Majennang, yang dihadiri para pegawai swapraja Suppa dan pemuka-pemuka masyarakat Suppa. Pada rapat rahasia itu disepakati menyetujui dan mengangkat sumpah mengatakan "Polopa polopanni narekko naposiri ipomateni idi' atae".
Pada saat itu juga oleh Andi Abdullah Bau Massepe memerintahkan Andi Arsyad, AndiSelle, Labanggo Siradja untuk menyusun laskar BPRI guna persiapan tempur melawan NICA (Belanda) dan dibantu oleh bekas Heihodari Jepang yang melarikan diri dan berjuang untuk kemerdekaan RI. Kemudian dibentuk juga Persatuan Merah Putih. Para komandan laskar tersebutm, masing-masing Andi Cammi di Sidrap dengan gelar Ganggawa, Andi Abu Bakar Masenrengpulu di Enrekang gelarnya BPRI Andi Parenrengi di Majene dengan gelar Kris Muda, Di Barru diberi gelar BPRI.
Tanggal 30 Agustus 1945, Andi Abdullah Bau Massepe bersama Andi Makkasau mengadakan demonstrasi barisan keliling kota Parepare dengan membawa bendera Merah Putih, sekitar 400 orang dari Suppa dengan menggunakan Kopiah berlambang merah putih, bergabung dengan PNI Parepare yang dipimin Usman Isa yang juga Ketua PNI Parepare. Gerakan itu dilakukan untuk menunjukkan bahwa mereka siap mempertahankan kemerdekaan RI. Ketika Tentara NICA berkuasa, Andi Abdullah Bau Massepe bersama pasukannya terus melakukan perlawanan terhadap tentara NICA.
Pasukan dibawah Komando Andi Abdullah Bau Masepe itu melakukan gerakan gerilla dan beberapa kali terjadi kontak senjata dengan tentara NICA. Untuk kebutuhan persenjataan, Andi Bau Massepe melakukan kontak dengan Juli, seorang Komandan Polisi NICA di Balik Papan (Kaltim). Juli yang juga seorang pejuang sejati itu, mensuplai ratusan senjata dan amunisidan diselundupkan masuk melalui pelabuhan Suppa.
Rupanya gerakan perjuangan Andi Abdullah Bau Massepe membuat pusing tentara NICA. Komandan Tentara NICA kemudian menemui Andi Abdullah Bau Massepe ke Kantor Swapraja di Suppa. NICA menyodorkan selembar kertas agar ditandatangani. Isi surat itu, agar Andi Abdullah Bau Massepe mau menyetujui keberadaan Belanda di wilayahnya. Tawaran itu ditolak mentah-mentah.
"Permintaan tuan tidak dapat dipenuhi. Indonesia pasti merdeka, tidak ditawar-tawar kalau perlu saya korban bersama-sama dengan rakyat di Suppa, kalau perlu korban darah dan jiwa pun saya rela dan saya tidak bisa berbicara dua kali, hanya sekali dilahirkan oleh ibu saya, tidak cukup dua kali dan berpesan lebih baik mati berkalang tanah daripada dijajah kembali oleh Belanda." tegas Andi Abdullah Bau Massepe ketika itu. Perkataan itu membuat Komandan Tentara NICA marah.
Beberapa hari kemudian, tentara Belanda menangkap Andi Abdullah Bau Masepe bersama Andi Baso Daeng Erang Sulawatang Suppa, Andi Mojong Pabbicara Suppa dan Syamsuddin Juru tulis Suppa. Kelimanya ditahan Belanda di barak tentara NICA di kampung Kariango. Bulan Desember, Andi Abdullah Bau Massepe dan Andi Baso Daeng Erang dibunuh di Palia, yang lainnya ditembak mati di Suppa. Dari perjuangan Andi Abdullah Bau Massepe, lahirlah Resimen I Paccekke Brigade 16.
Penganugerahan kepada pejuang sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah adalah merupakan suatu bentuk penghargaan pemerintah kepada jasa para pahlawan yang telah berkorban jiwa dan raga demi dan semata-mata untuk membebaskan bangsa ini dari belenggu penjajahan dimasa yang silam adalah manifestasi bahwa bangsa kita dewasa ini meski di ronrong berbagai masalah dan polemik tetap dan tak akan lekang menghargai pengorbanan para pahlawan bangsa ini, sebab Bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghormati dan menghargai jasa pahlawannya.
Begitu pun sejarah heroik yang telah dilakoni oleh sosok Andi Abdullah Bau Massepe pejuang yang dengan begitu gigih berjuang bersama masyarakat Sulawesi Selatan dalam mengusir penjajahan dari bumi Sulawesi, yang dalam rangkaian perjalanan yang begitu panjang dan berliku dan tanpa mengenal lelah serta pengorbanan harta dan nyawa telah membawa bangsa ini ke zaman yang kita nikmati saat ini, kemerdekaan dan kebebasan.
Olehnya pemerintah pusat berkenan menganugerahkan Letnan Jenderal TNI Andi Abdullah Bau Massepe sebagai pahlawan nasional pada momen Hari Pahlawan tanggal 10 November 2005 bertempat di Istana Negara Jakarta oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang dihadiri segenap pejabat tinggi negara serta ahli waris, keluarga dan kerabat Andi Abdullah Bau Massepe serta masyarakat Sulawesi Selatan sendiri.
Rasa bangga dan terhormat tentu saja dirasakan oleh bukan saja keluarga dan kerabat Bau Massepe akan tetapi kebanggaan dan penghormatan tersebut juga dirasakan oleh seluruh masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya.
Oleh : Sulhayat Takdir, Sh
Monday, October 18, 2010
Selamat Ulang Tahun Sulsel Ke-341
Makassar yang dulu disebut Ujung Pandang adalah Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan. Di Sulsel, ada beberapa suku bangsa, yaitu Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, Duri, Pattinjo, Maroangin, Endekan, Pattae, dan Kajang/Konjo.
Menurut catatan Wikipedia, lima tahun setelah kemerdekaan, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1950, yang menjadi dasar hukum berdirinya Provinsi Administratif Sulawesi. Sekira 10 tahun kemudian, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 47 Tahun 1960 yang mengesahkan terbentuknya Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Empat tahun kemudian, melalui UU Nomor 13 Tahun 1964, pemerintah memisahkan Sulawesi Tenggara dari Sulawesi Selatan. Terakhir, pemerintah memecah Sulawesi Selatan menjadi dua, berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004.
Kabupaten Majene, Mamasa, Mamuju, Mamuju Utara dan Polewali Mandar, yang tadinya merupakan kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan resmi menjadi kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat, seiring dengan berdirinya provinsi tersebut pada 5 Oktober 2004 berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004.
Sunday, October 17, 2010
Go Iwata, Mahasiswa Jepang Peneliti Budaya Siri' na Pacce di Galesong Takalar
Boleh dibilang belum ada peneliti asing yang serius meneliti budaya siri' na pacce secara mendalam. Mahasiswa Jepang ini justru menghabiskan waktu selama dua tahun untuk menelitinya. Ia begitu takjub dengan dinamisasi masyarakat Sulsel. Laporan: Ridwan Marzuki, Makassar SOSOKNYA sederhana. Perawakannya tinggi. Ia begitu ramah dan murah senyum. Dengan fasih ia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya. Ia bernama Go Iwata, peneliti asal Jepang yang telah menetap di Sulsel selama dua tahun untuk melakukan penelitian mengenai budaya siri' na pacce.
Dia mampu menjawab setiap pertanyaan dengan lancar dalam tiga bahasa; Indonesia, Makassar, dan Bugis. Tetapi dibandingkan bahasa Bugis, bahasa Makassar lebih dikusasainya.
Mahasiswa S2 di Kyoto University ini berada di Makassar untuk melakukan penelitian sejak Oktober 2008. Dia begitu tertarik dengan konsepsi siri' na pacce yang dianggapnya lahir dari sebuah masyarakat dinamis. Penelitiannya telah ia rampungkan, dan September ini ia akan kembali ke negaranya, Jepang. Untuk merampungkan tesis, katanya.
Lokasi penelitian Iwata di daerah Galesong, Takalar. Sebelumnya, tepatnya saat masih S1 di Jurusan Kajian Indonesia Fakultas Kajian Asing, Tokyo University of Foreign Studies pada kurun waktu 2002-2006, dirinya intens mempelajari Bahasa Indonesia.
Juga mempelajari budaya dan sejarah negeri beribu pulau ini. Terkhusus mempelajari budaya Bugis-Makassar yang terkenal sebagai perantau, banyak memiliki pahlawan, dan memiliki jiwa patriotisme tinggi.
"Dari situ saya tertarik untuk meneliti budaya Bugis-Makassar. Saya ingin tahu apa yang melatarbelakangi sehingga Bugis-Makassar ini bersifat begitu dinamis," ungkap Iwata saat bertandang ke redaksi Fajar, Senin 20 September lalu.
Bukan hanya mempelajari budaya Bugis-Makassar, tetapi kebudayaan Jawa juga tak urung menjadi bagian yang dipelajari dan menarik perhatiannya. Hanya saja, penelitiannya fokus pada budaya Bugis-Makassar, yaitu konseps siri' na pacce (Makassar) atau siri' na pesse (Bugis).
Siri' na pacce, kata dia, merupakan tema umum yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sulsel, khususnya etnis Bugis-Makassar. Iwata menjelaskan, pada mulanya, siri' na pacce merupakan sesuatu yang berkaitan kawin lari.
Yakni jika sepasang pria dan wanita kawin lari, maka mereka telah dianggap melakukan perbuatan siri' dan membawa aib bagi keluarga. Keluarga perempuan selanjutnya disebut tumasiri', yaitu orang-orang yang berhak menuntut sang pria secara hukum adat karena keluarganya dibawa kabur (kawin lari).
Selama belum kembali melakukan perdamaian, maka selama itu pula sang pria tidak diperkenankan bertemu keluarga pihak perempuan sebagai pasangan kawin larinya. Perdamaian hanya bisa dilakukan secara adat dengan kembali membawa sang perempuan ke rumahnya yang selanjutnya disebut a'bajik.
Jika ini belum dilakukan, maka status tumasiri' tetap melekat bagi keluarga perempuan. Namun jika a'bajik sudah dilaksanakan, maka pasangan kawin lari tadi secara hukum adat sudah terlindungi. Siapa saja yang mengganggunya akan dicap sebagai pelanggar adat dan dikenakan hukum adat.
"Inti budaya siri' na pacce itu bukan cuma berkaitan pernikahan. Tapi, mencakup seluruh aspek kehidupan orang Bugis-Makassar. Karena, siri' na pacce itu merupakan jati diri bagi orang Bugis-Makassar," ucap pria kelahiran Jepang, 21 September 1983 ini.
Siri' na pacce, imbuhnya, juga berfungsi mencipatakan hubungan harmonis serta melahirkan kerukunan antar sesama, baik dalam relasi antar-individu, kelompok, maupun kemasyarakatan. Konsep itu, kata lelaki bujang ini, berkaitan erat dengan saling menghargai atau sipakatau atau sipakalabbiri (Makassar). Intinya, kata dia, budaya siri' na pacce mengarahkan manusia untuk saling menghargai dan menghormati harga diri masing-masing, serta saling mengasihi dan menyayangi.
Dan itu, imbuhnya, sampai kini tidak mengalami pergeseran berarti, kecuali pada wilayah ekspresif atau simbol. Dalam Bahasa Indonesia, siri' biasa diterjemahkan dengan malu, harga diri, kehormatan. Tapi menurut Iwata, semua itu tidak pas mewakili makna siri' yang sebenarnya.
"Sering saya dengar orang terutama di media-media mengatakan bahwa budaya siri' na acce itu telah pudar. Tetapi menurut saya, keberadaan wacana seperti itu membuktikan bahwa perhatian terhadap budaya ini masih sangat tinggi. Mengapa? Karena orang di sini sendiri menganggap budaya ini sebagai suatu konsep yang begitu tinggi, yakni suatu nilai budaya yang sangat penting," urainya.
Menurut Iwata, ada kemiripan budaya malu antara orang Jepang dan Bugis-Makassar. Orang Jepang, katanya, selalu memperhatikan pandangan orang lain terhadap dirinya sementara orang Sulsel (Makassar), kehormatan atau harkat keluarga begitu dijunjung. Rasa persaudaraan orang Sulsel juga dinilainya sangat tinggi.
Sebagai contoh, ungkapnya, tidak seorang pun yang menolak kehadirannya di Galesong selama hampir dua tahun. Dia bahkan sangat terkesan dengan sikap Camat Galesong yang ditinggalinya selama melakukan penelitian.
"Saya mengerti keadaan kamu karena saya juga pernah kuliah di Jawa, yakni di Universitas Gajah Mada," ujar Iwata menirukan perkataan Camat Galesong, saat menolak pembayaran sewa rumahnya.
Begitu berkesannya Sulsel baginya, sehingga suatu saat ia berharap dapat kembali ke Indonesia mengunjungi orang Makassar. Ia malah menganggap Sulsel sebagai kampung halaman keduanya. Oleh karena itu, kepulangannya ke Jepang dianggapnya bukan sebuah perpisahan, melainkan langkah atau jenjang untuk melanjutkan hubungan yang lebih erat dan lebih dalam lagi.
"Jadi itu juga wujudnya persaudaraan orang Sulawesi Selatan ini. Sekali kenal baik, maka ikatan persaudaraannya akan sangat kuat. Makanya saya harus kembali lagi ke sini, atau orang sini yang ke Jepang. Pappala' doangngang mamaka," ucapnya dalam Bahasa Makassar yang berarti minta didoakan. (*)
Sumber : Fajar News (www.news.fajar.co.id)











Dia mampu menjawab setiap pertanyaan dengan lancar dalam tiga bahasa; Indonesia, Makassar, dan Bugis. Tetapi dibandingkan bahasa Bugis, bahasa Makassar lebih dikusasainya.
Mahasiswa S2 di Kyoto University ini berada di Makassar untuk melakukan penelitian sejak Oktober 2008. Dia begitu tertarik dengan konsepsi siri' na pacce yang dianggapnya lahir dari sebuah masyarakat dinamis. Penelitiannya telah ia rampungkan, dan September ini ia akan kembali ke negaranya, Jepang. Untuk merampungkan tesis, katanya.
Lokasi penelitian Iwata di daerah Galesong, Takalar. Sebelumnya, tepatnya saat masih S1 di Jurusan Kajian Indonesia Fakultas Kajian Asing, Tokyo University of Foreign Studies pada kurun waktu 2002-2006, dirinya intens mempelajari Bahasa Indonesia.
Juga mempelajari budaya dan sejarah negeri beribu pulau ini. Terkhusus mempelajari budaya Bugis-Makassar yang terkenal sebagai perantau, banyak memiliki pahlawan, dan memiliki jiwa patriotisme tinggi.
"Dari situ saya tertarik untuk meneliti budaya Bugis-Makassar. Saya ingin tahu apa yang melatarbelakangi sehingga Bugis-Makassar ini bersifat begitu dinamis," ungkap Iwata saat bertandang ke redaksi Fajar, Senin 20 September lalu.
Bukan hanya mempelajari budaya Bugis-Makassar, tetapi kebudayaan Jawa juga tak urung menjadi bagian yang dipelajari dan menarik perhatiannya. Hanya saja, penelitiannya fokus pada budaya Bugis-Makassar, yaitu konseps siri' na pacce (Makassar) atau siri' na pesse (Bugis).
Siri' na pacce, kata dia, merupakan tema umum yang melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sulsel, khususnya etnis Bugis-Makassar. Iwata menjelaskan, pada mulanya, siri' na pacce merupakan sesuatu yang berkaitan kawin lari.
Yakni jika sepasang pria dan wanita kawin lari, maka mereka telah dianggap melakukan perbuatan siri' dan membawa aib bagi keluarga. Keluarga perempuan selanjutnya disebut tumasiri', yaitu orang-orang yang berhak menuntut sang pria secara hukum adat karena keluarganya dibawa kabur (kawin lari).
Selama belum kembali melakukan perdamaian, maka selama itu pula sang pria tidak diperkenankan bertemu keluarga pihak perempuan sebagai pasangan kawin larinya. Perdamaian hanya bisa dilakukan secara adat dengan kembali membawa sang perempuan ke rumahnya yang selanjutnya disebut a'bajik.
Jika ini belum dilakukan, maka status tumasiri' tetap melekat bagi keluarga perempuan. Namun jika a'bajik sudah dilaksanakan, maka pasangan kawin lari tadi secara hukum adat sudah terlindungi. Siapa saja yang mengganggunya akan dicap sebagai pelanggar adat dan dikenakan hukum adat.
"Inti budaya siri' na pacce itu bukan cuma berkaitan pernikahan. Tapi, mencakup seluruh aspek kehidupan orang Bugis-Makassar. Karena, siri' na pacce itu merupakan jati diri bagi orang Bugis-Makassar," ucap pria kelahiran Jepang, 21 September 1983 ini.
Siri' na pacce, imbuhnya, juga berfungsi mencipatakan hubungan harmonis serta melahirkan kerukunan antar sesama, baik dalam relasi antar-individu, kelompok, maupun kemasyarakatan. Konsep itu, kata lelaki bujang ini, berkaitan erat dengan saling menghargai atau sipakatau atau sipakalabbiri (Makassar). Intinya, kata dia, budaya siri' na pacce mengarahkan manusia untuk saling menghargai dan menghormati harga diri masing-masing, serta saling mengasihi dan menyayangi.
Dan itu, imbuhnya, sampai kini tidak mengalami pergeseran berarti, kecuali pada wilayah ekspresif atau simbol. Dalam Bahasa Indonesia, siri' biasa diterjemahkan dengan malu, harga diri, kehormatan. Tapi menurut Iwata, semua itu tidak pas mewakili makna siri' yang sebenarnya.
"Sering saya dengar orang terutama di media-media mengatakan bahwa budaya siri' na acce itu telah pudar. Tetapi menurut saya, keberadaan wacana seperti itu membuktikan bahwa perhatian terhadap budaya ini masih sangat tinggi. Mengapa? Karena orang di sini sendiri menganggap budaya ini sebagai suatu konsep yang begitu tinggi, yakni suatu nilai budaya yang sangat penting," urainya.
Menurut Iwata, ada kemiripan budaya malu antara orang Jepang dan Bugis-Makassar. Orang Jepang, katanya, selalu memperhatikan pandangan orang lain terhadap dirinya sementara orang Sulsel (Makassar), kehormatan atau harkat keluarga begitu dijunjung. Rasa persaudaraan orang Sulsel juga dinilainya sangat tinggi.
Sebagai contoh, ungkapnya, tidak seorang pun yang menolak kehadirannya di Galesong selama hampir dua tahun. Dia bahkan sangat terkesan dengan sikap Camat Galesong yang ditinggalinya selama melakukan penelitian.
"Saya mengerti keadaan kamu karena saya juga pernah kuliah di Jawa, yakni di Universitas Gajah Mada," ujar Iwata menirukan perkataan Camat Galesong, saat menolak pembayaran sewa rumahnya.
Begitu berkesannya Sulsel baginya, sehingga suatu saat ia berharap dapat kembali ke Indonesia mengunjungi orang Makassar. Ia malah menganggap Sulsel sebagai kampung halaman keduanya. Oleh karena itu, kepulangannya ke Jepang dianggapnya bukan sebuah perpisahan, melainkan langkah atau jenjang untuk melanjutkan hubungan yang lebih erat dan lebih dalam lagi.
"Jadi itu juga wujudnya persaudaraan orang Sulawesi Selatan ini. Sekali kenal baik, maka ikatan persaudaraannya akan sangat kuat. Makanya saya harus kembali lagi ke sini, atau orang sini yang ke Jepang. Pappala' doangngang mamaka," ucapnya dalam Bahasa Makassar yang berarti minta didoakan. (*)
Sumber : Fajar News (www.news.fajar.co.id)
Friday, March 26, 2010
Raja Perempuan Bugis Makassar II
Pada beberapa dekade lalu berkembang wacana tentang Persamaan Hak, isu jender dan emansipasi perempuan. Namun, apabila kita melihat ke belakang, merangkum kembali sejarah panjang peradaban Bugis Makassar, Kita akan banyak menjumpai pemimpim-pemimpin perempuan yang memerintah kerajaan di seluruh pelosok semenanjung selatan pulau Sulawesi.
Sulawesi Maluku
1858-59 Basse Kajuawara Abdul Hadi Pelaiengie Passempa.
Cenrana
1889-96 I Marette
Menikah dengan penguasa ke-23, Tandiwali, yang berkuasa sampai tahun 1889. beliau adalah putri dari Jalangkara, yang juga penguasa di daerah Pambuang. Dan kemudian digantikan oleh putranya, La Galigu, yang memerintah sampai tahun 1901.
Enrekang
…Ratu Takkebuku
Beliau adalah penguasa pertama yang sangat dikenal dan merupakan putri dari Tenriangka Patta Taulan dan Danrakati Patta Tinggalung.
…Ratu Kota
Digantikan oleh putrinya Bissu Tonang.
…Ratu Bissu Tonang
Digantikan oleh putranya Andi Mappatunru.
…-1915 Ratu Andi Pancaetana
penggantinya , Petta Ahmad berkuasa sampai tahun 1934.
Kassa
1897-1939 Aru I Buabara
beliau adalah salah seorang penguasa bugis sampai kemudian digantikan oleh putranya Andi Coppo, yang berkuasa sampai 1952.
Laikang
1861-79 I Madima Daeng Bau
Menggantikan ayahnya, Muhammad Daeng Riboko, dan kemudian digantikan oleh saudaranya, I Tikula.
Luwu
…Datu Maoge
Beliau adalah penguasa ke-15 dan menikah dengan Batara Guru, kemudian digantikan oleh putrinya.
…Payung E-ri Luwu Opunna Rawe
Putri dari Datu Maoge, dan menikah dengan Datu Balubu.
1713-19 Payung E-ri Luwu Fatima Batara Tongke
menggantikan ayahnya, Muhammad Muizuddin To Palaguna, dam kemudian digantikan oleh sepupunya dari pihak ayah.
1719-34 Payung E-ri Luwu Batari Toja
Menggantikan sepupunya, Fatima dan karena tidak mempunyai keturunan beliau kemudian digantikan putrid dari Fatima Batara Tongke, We tenrileleang Aisyah Bahjatuddin.
1734-51 Payung E-ri Luwu We Tenrileleang Aisyah Bahjatuddin
Mulai tahun 1747 menjadi Datu’ Tanete.
1751 Payung E-ri Luwu Petta Matinroe ri Kaluku Bodoe
1809-26 Payung E-ri Luwu We Tenriawaru
Beliau menggantikan Abdullah La Tenripappang, dan menikah dengan Adatuang La Paonrowang ri Soppeng (1782-1820)
1880-83 Payung E-ri Luwu Datu’ Opu Anrong Guru (MatinroE ri Tamalulu)
Beliau menggantikan kemenakanya, Abdul Karim To Barue.
1898-1935 Payung E-ri Luwu Andi We Kambo Opu Daeng Risompa
Menggantikan ayahnya, Iskandar Aru Larompang, dan namanya kemudian setelah mangkat, MatinroE ri Limpomajang. putranya, Andi Jemma Barue, adalah penguasa terakhir Luwu (1936-46/49-59/60)
1965/1985. Simbol monarki, Andi Tenri Padang Opu Datu mnegambil alih kekuasaan setelah suaminya mangkat, Datu’ Andi Jemma Barue. Beliau adalah putri dari Arumpone Andi Mappanyukki (mangkat tahun 1967) yang menjadi penguasa di daerah Suppa pada tahun 1900-1905,1931-1946 dan 1957-1960.
2003- Datu’ Andi Lu
Cucu dari Andi Jemma Barue, beliau diangkat oleh keluarganya, pada tahun yang sama beliau menjadi Walikota Palopo.
Sulawesi Maluku
1858-59 Basse Kajuawara Abdul Hadi Pelaiengie Passempa.
Cenrana
1889-96 I Marette
Menikah dengan penguasa ke-23, Tandiwali, yang berkuasa sampai tahun 1889. beliau adalah putri dari Jalangkara, yang juga penguasa di daerah Pambuang. Dan kemudian digantikan oleh putranya, La Galigu, yang memerintah sampai tahun 1901.
Enrekang
…Ratu Takkebuku
Beliau adalah penguasa pertama yang sangat dikenal dan merupakan putri dari Tenriangka Patta Taulan dan Danrakati Patta Tinggalung.
…Ratu Kota
Digantikan oleh putrinya Bissu Tonang.
…Ratu Bissu Tonang
Digantikan oleh putranya Andi Mappatunru.
…-1915 Ratu Andi Pancaetana
penggantinya , Petta Ahmad berkuasa sampai tahun 1934.
Kassa
1897-1939 Aru I Buabara
beliau adalah salah seorang penguasa bugis sampai kemudian digantikan oleh putranya Andi Coppo, yang berkuasa sampai 1952.
Laikang
1861-79 I Madima Daeng Bau
Menggantikan ayahnya, Muhammad Daeng Riboko, dan kemudian digantikan oleh saudaranya, I Tikula.
Luwu
…Datu Maoge
Beliau adalah penguasa ke-15 dan menikah dengan Batara Guru, kemudian digantikan oleh putrinya.
…Payung E-ri Luwu Opunna Rawe
Putri dari Datu Maoge, dan menikah dengan Datu Balubu.
1713-19 Payung E-ri Luwu Fatima Batara Tongke
menggantikan ayahnya, Muhammad Muizuddin To Palaguna, dam kemudian digantikan oleh sepupunya dari pihak ayah.
1719-34 Payung E-ri Luwu Batari Toja
Menggantikan sepupunya, Fatima dan karena tidak mempunyai keturunan beliau kemudian digantikan putrid dari Fatima Batara Tongke, We tenrileleang Aisyah Bahjatuddin.
1734-51 Payung E-ri Luwu We Tenrileleang Aisyah Bahjatuddin
Mulai tahun 1747 menjadi Datu’ Tanete.
1751 Payung E-ri Luwu Petta Matinroe ri Kaluku Bodoe
1809-26 Payung E-ri Luwu We Tenriawaru
Beliau menggantikan Abdullah La Tenripappang, dan menikah dengan Adatuang La Paonrowang ri Soppeng (1782-1820)
1880-83 Payung E-ri Luwu Datu’ Opu Anrong Guru (MatinroE ri Tamalulu)
Beliau menggantikan kemenakanya, Abdul Karim To Barue.
1898-1935 Payung E-ri Luwu Andi We Kambo Opu Daeng Risompa
Menggantikan ayahnya, Iskandar Aru Larompang, dan namanya kemudian setelah mangkat, MatinroE ri Limpomajang. putranya, Andi Jemma Barue, adalah penguasa terakhir Luwu (1936-46/49-59/60)
1965/1985. Simbol monarki, Andi Tenri Padang Opu Datu mnegambil alih kekuasaan setelah suaminya mangkat, Datu’ Andi Jemma Barue. Beliau adalah putri dari Arumpone Andi Mappanyukki (mangkat tahun 1967) yang menjadi penguasa di daerah Suppa pada tahun 1900-1905,1931-1946 dan 1957-1960.
2003- Datu’ Andi Lu
Cucu dari Andi Jemma Barue, beliau diangkat oleh keluarganya, pada tahun yang sama beliau menjadi Walikota Palopo.
Monday, March 22, 2010
Raja Perempuan Bugis Makassar
Pada beberapa dekade lalu berkembang wacana tentang Persamaan Hak, isu jender dan emansipasi perempuan. Namun, apabila kita melihat ke belakang, merangkum kembali sejarah panjang peradaban Bugis Makassar, Kita akan banyak menjumpai pemimpim-pemimpin perempuan yang memerintah kerajaan di seluruh pelosok semenanjung selatan pulau Sulawesi.
Alitta
Sekitar tahun 1600-an Aru We Cella
Menggantikan ayahnya Adatuang La Cellamata ri sawitto, beliau kemudian digantikan oleh anaknya La Masora, beliau menikah dengan Adatuang La Pancaitana ri Sidenreng. La Masora kemudian digantikan oleh anak perempuannya We Tenrilekke yang menikah dengan Aru Rappang La Tone.
...Abad ke-8 Aru We Tasi Arung Ganrang.
Beliau menikah dengan anak dari Aru La Pamessangi(Raja Ke-6), yang juga adalah Datu Suppa.
...Abad Ke-11 Aru We Mapalewa
Putri dari To Sibengara (Raja ke-10)
...-1859 Aru Patta Lacabalai
Menggantikan saudaranya, Muhammad Tahir, yang kemudian digantikan oleh saudara perempuannya Aru Anipong.
1859-61 Aru Anipong
Menggantikan saudara perempuannya, Aru Patta Lacabalai, dan kemudian digantikan oleh cucu dari saudara perempuannya, We Tenripadarang.
1861-1902 Aru We Tenripadarang
1861-1902 Adatuang We Tenripaderang
Menggantikan Aru Aniping dan menikah dengan Putra Mahkota yang kemudian menjadi Raja/Somba ri Gowa Sultan Hussain. Ibunya bernama Basse Kajuawara adalah keturunan bangsawan Bone dan Suppa. Beliau kemudian memenuhi permintaan anaknya La Pangorisang(1902-1905) untuk menggabungkan kerajaan Alitta dan Sawitto pada tahun 1908.
Alla(Tobango)
...1909 Aru Kabe
Beliau adalah putri dari dua raja sebelumnya Aru Patta Mataelo dan penggantinya Aru Mangke. Beliau kemudian digantikan oleh putra dari saudara perempuannya, Aru I Lorong yang wafat pada tahun 1931.
Balangnipa
1947-57 Maradia
Menggantikan suaminya, Haji Andi Depu Baso, beliau memerintah sampai 1950 dan tujuh tahun berikutnya pada pemerintahan sementara. Beliau digantikan oleh cucu dari paman suaminya, Puang Manda' alias Haji Andi Syahribulan.(1959-1963) sebagai pemimpin terakhir daerah Mandar. Ini adalah gabungan dari tujuh wilayah yang menjadikan Maradia Balangnipa sebagai pemimpin. Pada tahun 1873 Belanda memisahkan ketujuh wilayah ini. Sebelumnya di daerah ini dipimpin oleh Maraja Magau.
Batulapa
1800-an Aru We Langrungi ri Batulappa
Putri dari Aru Puang Baso, setelah wafat namanya menjadi Matinroe ri Sikkirana.
Barru
...Abad ke-11 Aru Matinroe ri Gamecana barru
Putri dari Toriwetae ri Bampang,beliau kemudian digantikan oleh putrinya I Limpo daeng Manakko.
...Abad ke-12 Aru I Limpo Daeng Manakko ri Barru
menggantikan ibunya dan menikah dengan Adatuang La Tenritipe Towalennae Arung Ujung ri Sidenreng.
...Rakia Karaeng Agangjene, Matinroe ri Sidenreng Barru
beliau adalah putri dari La Mallewai Matinroe ri Tanna maridie, yang menggantikan ibunya I Limpo Daeng Manak Aru ri Barru dan ayahnya sebagai Adatuang ri Sidenreng. Kemudian digantikan oleh anak laki-lakinya,Toappo Arung Ujung yang juga menjadi Adatuang ri Sidenreng bergelar Towappo Abdullah pada pertengahan abad ke-18.
1836-75 Aru Tenripada Siti Aisa, Matinroe ri Gowa
Menggantikan ayahnya, Arung Alakku,To Patarai Matinroe ri Masigina. Menikah dengan I Malingkang idris, yang menjadi Raja Gowa pada tahun 1839-95. beliau juga bergelar Basse Barru. Kemudian digantikan oleh putrinya I Batari Toja.
1875-1908 Aru I Batari Toja ri Barru
Menggantikan ibunya, Tenripada Siti Aisa. Dan kemudian digantikan oleh anak laki-lakinya, I Jonjo
Karaeng Limbangparang yang memerintah sampai tahun 1955.
Binamu
1850-63 Karaeng I Patima Daeng Matin
Bone
...-1508 Arumpone We Tenri Gau Daeng Marowa Aru Majang Makalappi
Menggantikan ayahnya, La Saliwu Karampeluwe Pasodowakkae, dan kemudian digantikan oleh anaknya La Tenri Sukki Mapajunge yang memerintah pada tahun 1508-1535.
1602-1611 Arumpone We Tenri Tuppu
Menggantikan sepupu kakeknya, La Patawang(1595-1602). Dan kemudian digantikan oleh anaknya La Tenriruwe.
1714-1715, 1720, 1724-1738 dan 1741-1749 Arumpone Batari Toja Daeng Talaga Sultana Zainab Zakiat Uddin.
1715 dan 1728-1738 Datu' ri Soppeng
1719-20 Datu' ri Luwu
...-1779 I Tanitaja Siti Amira Maning Ratu, Matinroe ri Lanna Arung Palakka ri Bone
Adalah putri dari La Parappa To Aparapu Sappewali Madanrang Daeng Bonto Karaeng Anamonjang Sultan Shahab Uddin Ismail, Tumenanga ri Somba Opu. Yang menjadi Sultan Gowa pada tahun 1690-1709. Pada tahun 1725 menikah dengan Sultan Tallo, I Mappainga Karaeng Lempangang Sultan Safiuddin I Makkasuma.
1823-45 Arumpone I Maeng Arung Data, Matinroe ri Kassie
1858-59 Arumpone Basse Kajuwara abdul Hadi Pasemba
Menjadi Datu' Suppa sampai tahun 1881. beliau menggantikan sepupunya Arumpugi La Parenrengi Ahmad Saleh(1845-1857), dan kemudian digantikan oleh kerabatnya, Ahmad Singkarru Rukka Arung Palakka(1860-1871).
1871-1895 Arumpone I Banrie Bau Banri Datu' Citta Aru Timurung
Beliau menggantikan ayahnya, Ahmad Singkarru Rukka Arung Palakka dan kemudian digantikan oleh saudaranya, La Pawawoi Karaeng Segeri yang memerintah sampai tahun 1905.
Bontobango
1844-1847 Opu Bonko Laloasa Daeng Sugina
Alitta
Sekitar tahun 1600-an Aru We Cella
Menggantikan ayahnya Adatuang La Cellamata ri sawitto, beliau kemudian digantikan oleh anaknya La Masora, beliau menikah dengan Adatuang La Pancaitana ri Sidenreng. La Masora kemudian digantikan oleh anak perempuannya We Tenrilekke yang menikah dengan Aru Rappang La Tone.
...Abad ke-8 Aru We Tasi Arung Ganrang.
Beliau menikah dengan anak dari Aru La Pamessangi(Raja Ke-6), yang juga adalah Datu Suppa.
...Abad Ke-11 Aru We Mapalewa
Putri dari To Sibengara (Raja ke-10)
...-1859 Aru Patta Lacabalai
Menggantikan saudaranya, Muhammad Tahir, yang kemudian digantikan oleh saudara perempuannya Aru Anipong.
1859-61 Aru Anipong
Menggantikan saudara perempuannya, Aru Patta Lacabalai, dan kemudian digantikan oleh cucu dari saudara perempuannya, We Tenripadarang.
1861-1902 Aru We Tenripadarang
1861-1902 Adatuang We Tenripaderang
Menggantikan Aru Aniping dan menikah dengan Putra Mahkota yang kemudian menjadi Raja/Somba ri Gowa Sultan Hussain. Ibunya bernama Basse Kajuawara adalah keturunan bangsawan Bone dan Suppa. Beliau kemudian memenuhi permintaan anaknya La Pangorisang(1902-1905) untuk menggabungkan kerajaan Alitta dan Sawitto pada tahun 1908.
Alla(Tobango)
...1909 Aru Kabe
Beliau adalah putri dari dua raja sebelumnya Aru Patta Mataelo dan penggantinya Aru Mangke. Beliau kemudian digantikan oleh putra dari saudara perempuannya, Aru I Lorong yang wafat pada tahun 1931.
Balangnipa
1947-57 Maradia
Menggantikan suaminya, Haji Andi Depu Baso, beliau memerintah sampai 1950 dan tujuh tahun berikutnya pada pemerintahan sementara. Beliau digantikan oleh cucu dari paman suaminya, Puang Manda' alias Haji Andi Syahribulan.(1959-1963) sebagai pemimpin terakhir daerah Mandar. Ini adalah gabungan dari tujuh wilayah yang menjadikan Maradia Balangnipa sebagai pemimpin. Pada tahun 1873 Belanda memisahkan ketujuh wilayah ini. Sebelumnya di daerah ini dipimpin oleh Maraja Magau.
Batulapa
1800-an Aru We Langrungi ri Batulappa
Putri dari Aru Puang Baso, setelah wafat namanya menjadi Matinroe ri Sikkirana.
Barru
...Abad ke-11 Aru Matinroe ri Gamecana barru
Putri dari Toriwetae ri Bampang,beliau kemudian digantikan oleh putrinya I Limpo daeng Manakko.
...Abad ke-12 Aru I Limpo Daeng Manakko ri Barru
menggantikan ibunya dan menikah dengan Adatuang La Tenritipe Towalennae Arung Ujung ri Sidenreng.
...Rakia Karaeng Agangjene, Matinroe ri Sidenreng Barru
beliau adalah putri dari La Mallewai Matinroe ri Tanna maridie, yang menggantikan ibunya I Limpo Daeng Manak Aru ri Barru dan ayahnya sebagai Adatuang ri Sidenreng. Kemudian digantikan oleh anak laki-lakinya,Toappo Arung Ujung yang juga menjadi Adatuang ri Sidenreng bergelar Towappo Abdullah pada pertengahan abad ke-18.
1836-75 Aru Tenripada Siti Aisa, Matinroe ri Gowa
Menggantikan ayahnya, Arung Alakku,To Patarai Matinroe ri Masigina. Menikah dengan I Malingkang idris, yang menjadi Raja Gowa pada tahun 1839-95. beliau juga bergelar Basse Barru. Kemudian digantikan oleh putrinya I Batari Toja.
1875-1908 Aru I Batari Toja ri Barru
Menggantikan ibunya, Tenripada Siti Aisa. Dan kemudian digantikan oleh anak laki-lakinya, I Jonjo
Karaeng Limbangparang yang memerintah sampai tahun 1955.
Binamu
1850-63 Karaeng I Patima Daeng Matin
Bone
...-1508 Arumpone We Tenri Gau Daeng Marowa Aru Majang Makalappi
Menggantikan ayahnya, La Saliwu Karampeluwe Pasodowakkae, dan kemudian digantikan oleh anaknya La Tenri Sukki Mapajunge yang memerintah pada tahun 1508-1535.
1602-1611 Arumpone We Tenri Tuppu
Menggantikan sepupu kakeknya, La Patawang(1595-1602). Dan kemudian digantikan oleh anaknya La Tenriruwe.
1714-1715, 1720, 1724-1738 dan 1741-1749 Arumpone Batari Toja Daeng Talaga Sultana Zainab Zakiat Uddin.
1715 dan 1728-1738 Datu' ri Soppeng
1719-20 Datu' ri Luwu
...-1779 I Tanitaja Siti Amira Maning Ratu, Matinroe ri Lanna Arung Palakka ri Bone
Adalah putri dari La Parappa To Aparapu Sappewali Madanrang Daeng Bonto Karaeng Anamonjang Sultan Shahab Uddin Ismail, Tumenanga ri Somba Opu. Yang menjadi Sultan Gowa pada tahun 1690-1709. Pada tahun 1725 menikah dengan Sultan Tallo, I Mappainga Karaeng Lempangang Sultan Safiuddin I Makkasuma.
1823-45 Arumpone I Maeng Arung Data, Matinroe ri Kassie
1858-59 Arumpone Basse Kajuwara abdul Hadi Pasemba
Menjadi Datu' Suppa sampai tahun 1881. beliau menggantikan sepupunya Arumpugi La Parenrengi Ahmad Saleh(1845-1857), dan kemudian digantikan oleh kerabatnya, Ahmad Singkarru Rukka Arung Palakka(1860-1871).
1871-1895 Arumpone I Banrie Bau Banri Datu' Citta Aru Timurung
Beliau menggantikan ayahnya, Ahmad Singkarru Rukka Arung Palakka dan kemudian digantikan oleh saudaranya, La Pawawoi Karaeng Segeri yang memerintah sampai tahun 1905.
Bontobango
1844-1847 Opu Bonko Laloasa Daeng Sugina
Subscribe to:
Posts (Atom)
.