Kisah ini sendiri diambil dari catatan Claude de Forbin seorang ksatria Prancis, yang dikirim ke Siam (sekarang Thailand) oleh Raja Louis XIV, dengan misi yang amat ambisius dalam hal politik, agama, ilmu pengetahuan dan ekonomi.
Tahun 1658 - 1659 Phra Narai, raja Siam tercatat memberikan daerah
pengungsian bagi 773 orang Minangkabau yang berasal dari Sumatra Barat
dan berikutnya pada Tahun 1664, 250 orang (pria, wanita dan anak-anak)
tiba dari Makassar dan diberikan hak dan membangun komunitas
perkampungan bersebelahan dengan orang-orang Melayu yang sudah lebih
dulu menetap.
Akan tetapi keadaan yang damai dan harmonis di Siam waktu itu tidak
berlangsung lama, karena seringnya terjadi intrik dan perebutan
kekuasan dalam lingkungan keluarga dan kerabat istana. Tidak
terkecuali Phra Narai dulunya juga adalah seorang yang merebut
kekuasaan dengan cara kekerasan dan berdarah, sehingga ia sadar betul
bahwa kekuasaanya tidak berakar dan tidak kuat dukungannya sehingga ia
akan gampang pula digulingkan, karena itulah ia mempercayakan
pertahanan kerajaannya pada serdadu Prancis yang kala itu sedang
berada di Siam atas perintah Raja Prancis. Serdadu Prancis dipimpin
oleh Claude de Forbin dengan 6 kapal dan satu detasemen militer yang
beranggotakan 636 orang.
Adalah seorang pangeran Makassar bernama Daeng Mangalle yang rupanya
terlibat dengan konspirasi Melayu, Campa, Makassar dan orang Islam
lain di Siam, konspirasi ini akan berencana menyerang istana dan
membunuh raja Siam Phra Narai, karena Raja dianggap telah melenceng
yaitu menempatkan kepercayaan pada orang asing yaitu Prancis dan Misi
orang asing mengembangkan agama baru kemungkinan lebih buruk lagi Raja
akan berpindah memeluk agama baru.
Rupanya konspirasi ini sudah tercium sang raja, sehingga dengan cepat
Phra Narai memperkuat pertahanan istananya dengan menempatkan pasukan
Prancis tersebut serta meminta dukungan dari orang asing lainnya.
Daeng Mangalle menolak meminta pengampunan dari Raja dan menyangkal
keterlibatannya dalam persekongkolan tersebut.
Karena menolak akhirnya raja memerintahkan Forbin untuk mengepung
kapal-2 orang Makassar yang berniat meninggalkan Siam.
Kontak senjata pertama terjadi 40 orang Makassar menghadapi serdadu
Prancis dan Portugis dimana orang-2 Makassar menyerang mereka dengan
mengerikan mengejar pasukan Prancis dan Portugis sejengkal demi
sejengkal tanah yang dilewati menjadi ladang pembantian, wanita,
anak-anak semua dibunuh tanpa kecuali. Enam orang Makassar menyerang
Pagoda dan membunuh biawarawan disana, tercatat pasukan Eropa-Siam
kehilangan 366 orang dan belum lagi korban penduduk sipil.
Kontak kedua terjadi lagi saat tanggal 23 September 1686, raja
memerintahkan serangan besar2-an ke perkampungan orang Makassar.
Akhirnya prinsip orang Bugis Makassar menghadapi tantangan "sekali
layar berkembang pantang surut kebelakang" menyadari bahwa sudah tidak
ada kemungkin lain selain bertempur sampai mati, banyak diantara
mereka membunuh istri dan anak-anaknya untuk menghindari penjara dan
perbudakan. Beberapa kali pasukan Siam harus mundur menghadapi
perlawanan orang Makassar yang sangat berani dan nekat.
Daeng Mangalle sendiri terluka dengan lima tusukan tombak dan setelah
tangannya tertembak langsung menerjang menteri Siam dan membunuh
seorang Inggris.
Demikianlah akhir dari pertempuran itu 22 orang Makassar akhirnya
menyerah dan 33 orang prajurit Makassar dikumpulkan. Perlaakuan
terhadap orang Makassar yang tersisa sungguh tak terperikan kejamnya,
ada yang dikubur hidup-2 berdiri sampai leher dan mati setelah
diperlakukan dan di cemohkan dan dinakan benar-benar tanpa belas kasihan.
Peristiwa di Siam ini benar-benar membuat penduduk setempat kagum akan
keberanian kenekatan orang-orang Makassar menghadapi tentara yang
berjumlah ribuan dengan senjata lebih lengkap sementara orang Makassar
hanya bersenjatakan tombak dan badik, selama pertempuran itu 1000
orang siam dan 17 orang asing tewas mengenaskan.
Buku: Orang Indonesia & Orang Prancis, dari abad XVI sampai
dengan abad XX, karya Bernard Dorleans
Bernard Dorleans, sejarawan Perancis, mengumpulkan catatan
itu dalam buku 'Orang Indonesia dan Orang Perancis' (Edisi bahasa Indonesia,
KPG, 2006). Ia merujuk pada artikel Christian Pelras di majalah Archipel pada
1997. Kisah ini terjadi pada masa pemerintahan Louis XIV dan Louis XV
(1686-1736). Pada abad XVII masih sedikit orang Perancis yang pergi ke Makassar.
Uraiannya begini:
Keluarga kerajaan memiliki tradisi mengirim pangeran muda untuk melengkapi
pendidikan, militer khususnya, pada umur lima atau enam tahun hingga masa
remaja. Tersebutlah dua pangeran, Daeng Ruru, 15 tahun dan Daeng Tullolo, 16
tahun. Mereka dua pangeran yang selamat dalam pertempuran di Siam,
ketika Daen Ma-Alee (Daeng Mangalle), pangeran Makassar yang hidup dalam
pengasingan di Siam, seorang muslim, dituduh bersekongkol melawan
Raja Siam dan tewas saat pertempuran pada 1686.
Kepala kantor dagang Perancis di Siam memutuskan untuk mengirimkan Daeng Ruru
dan Daeng Tullolo ke Perancis. Mereka naik kapal Coche pada akhir November 1686,
tiba di Brest 15 Agustus 1687, dan baru berlabuh di Paris pada 10 September.
Louis XIV merasa tidak hanya wajib memenuhi kebutu*an hidup mereka, tapi juga
mengurusi pendidikan mereka dengan alasan kelas sosial kedua pangeran itu.
Kedua pemuda muslim itu dibaptis dalam agama Kristen dan diberi nama kehormatan
Louis bak raja Perancis. Mereka didaftarkan masuk ke kolese jesuit di Louis
le-Grand untuk belajar bahasa Perancis sebelum masuk ke sekolah tinggi Clermont
yang kondang. Lantas mereka diterima di institut paling bergengsi, yakni sekolah
perwira angkatan laut Brest pada 1682. Seleksi untuk masuk ke situ sangat ketat.
Kelak, sekolah itu menjadi cikal bakal sekolah marinir tertinggi di Perancis.
Daeng Ruru muda mendapat promosi amat cepat. Lulus sebagai perwira hanya dalam
waktu dua tahun. Usianya 19 tahun saat menyandang pangkat letnan muda, setara
letnan di angkatan darat. Usia 20, menyandang letnan, setara kapten di angkatan
darat.
Konon untuk mencapai prestasi gemilang macam itu, orang harus cerdas dan
berharta. Daeng Ruru berhasil karena itu. Tapi anehnya, pada 1706, Louis Pierre
Makassar (Daeng Ruru) tak diajak ikut dalam operasi angkatan laut ketika itu. Ia
mengirim surat keluhan kepada de Pontchartain, menteri kelautan kerajaan.
Protes.
Pada 3 Januari 1707, Daeng Ruru bertugas di kapal Jason. Bersenjatakan 54
meriam, dengan tugas memburu kapal serang Belanda, Vlisingen yang menyerang
kawasan laut Belle-ille dan ille de Croix. Tak lama kemudian, Daeng bertugas di
kapal Grand yang ke Havana, membantu Spanyol bertempur melawan Inggris. Pada 19
Mei 1708, Daeng Ruru tewas: entah karena masalah kehormatan atau perkara utang
judi.
Lain lagi cerita, Daeng Tulolo alias Louis Dauphin Makassar. Ada kisah aneh
tentangnya, seperti diungkapkan kamus Moreri: Salah satu dari kedua bersaudara
itu tewas ketika mengabdi kepada raja. Dia yang bertahan hidup, setelah
mengetahui kematian sepupunya, pulang dari Perancis untuk mengambilalih takhta
nenek moyangnya dan raja mengijinkan naik kapal.
Ia terlihat amat tekun menjalankan agama Katholik dan bahkan sebelum
meninggalkan Perancis, ia membuat suatu gambar yang sepertinya dipersembahkan
untuk perawan suci, Maria. Ia mendirikan ordo yang disebut 'Bintang'. Para
satria dalam ordo itu harus mengenakan pita putih yang diletakkan di bawah
perlindungan Bunda Maria. Gambar itu diletakkan dalam gereja Notre Dame, tapi
beberapa tahun kemudian gambar itu diturunkan setelah orang tahu kalau pangeran
itu telah memeluk agama nenek moyangnya, Islam, dengan alasan poligami.'
Kenaikan pangkat Daeng Tullolo lebih lambat dari abangnya. Ia lulus sekolah
angkatan laut pada 18 Mei 1699 tetapi menunggu 13 tahun sebelum jadi letnan muda
pada usia 38 tahun. Pangkat itu disandangnya seumur hidup.
Ia sempat bertugas di kapal India. Ketika ia meninggal di Bres 30 November 1736
pada usia 62 tahun, ia dibawa ke gereja Carmes di kota itu untuk disemayamkan
dengan dihadiri beberapa perwira angkatan laut. Ia dikubur dalam gereja Louis de
Brest. Jenazahnya hancur ketika terjadi pemboman saat perang dunia II.